REAKSI-REAKSI
SPESIFIK PADA PROTEIN
Protein
merupakan polimer
yang tersusun dari asam amino sebagai monomernya.
Monomer-monomer ini tersambung dengan ikatan
peptida, yang mengikat gugus karboksil milik satu monomer dengan
gugus amina milik monomer di sebelahnya. Reaksi penyambungan ini (disebut translasi)
secara alami terjadi di sitoplasma dengan bantuan ribosom
dan tRNA. Pada polimerisasi asam amino, gugus
-OH yang merupakan bagian gugus karboksil satu asam amino dan gugus -H yang
merupakan bagian gugus amina asam amino lainnya akan terlepas dan membentuk
air. Oleh sebab itu, reaksi ini termasuk dalam reaksi dehidrasi.
Molekul asam amino yang telah melepaskan molekul air dikatakan disebut dalam
bentuk residu asam amino.
Asam amino adalah molekul yang mengandung gugus amino
(–NH2) dan gugus karboksil (–COOH). Asam amino disebut juga
asam α-amino yang merupakan monomer dari protein (polipeptida). Struktur
umum asam amino:
Di dalam protein, asam-asam amino diikat bersama
melalui ikatan peptida, yaitu ikatan C–N hasil reaksi kondensasi antara gugus
karboksil dengan gugus amino dari asam amino lain. Perhatikan reaksi kondensasi
berikut.
Reaksi tersebut merupakan contoh dipeptida, yaitu
molekul yang dibentuk melalui ikatan peptida dari dua asam amino. Suatu
polipeptida (protein) adalah polimer yang dibentuk oleh sejumlah besar asam
amino melalui ikatan peptida membentuk rantai polimer.
Protein
adalah suatu senyawa organik yang mempunyai ikatan peptida dan berasal dari
monomer asam amino. Kata protein merupakan kata yang berasal dari bahasa
Yunani, yaitu Protos dan memiliki arti “yang paling utama”.Seluruh sel makhluk
hidup mendapatkan manfaat penting dari protein ini. Tentunya
hal itu punya penyebab, yaitu karena protein mengandung karbon, sulfur,
nitrogen, hidrogen dan oksigen. Protein juga mengandung
fosfor.
Ada empat tingkat struktur
dasar protein, yaitu struktur primer, sekunder, tersier, dan kuartener. Struktur primer terkait mengenai terbentuknya rantai-rantai
dengan ikatan-ikatan peptida dimana jumlah, macam, dan cara terkaitnya
(urutan) asam-asam amino mempunyai peranan penting. Struktur sekunder terkait mengenai berlilitnya
rantai-rantai polipeptida sampai terbentuknya suatu struktur spiral
karena terjadi ikatan hidrogen. Struktur tersier, rantai-rantai polipeptida yang berlilit itu
bergabung satu dengan yang laindengan pertolongan ikatan yang lemah yakni
ikatan hidrogen dan Van Der Wals sampai terbentuknya lapisan,
serat atau biji. Struktur kuartener, tidak semua protein mempunyai struktur kuartener, hanya jika protein itu terdisi atas 2 atau 4
rantai polipeptida yang tergabung oleh gaya bukan ikatan kovalen (bukan ikatan peptide atau disulfida). Gaya
yang menstabilkan gabungan itu adalah ikatan hydrogen dan elektrostatik atau ikatan garam.
Struktur primer protein
mempunyai rangkaian asam amino dan komponen prostetik pembentuk protein.
Struktur protein sekunder dan tersier mengacu pada kedudukan tiga matra dari
makromolekul; struktur kuartener menyatakan susunan komplek protein aneka
rantai. Sinarnya dan cara spektrum yang modern lainnya terutama amat penting untuk
menjelaskan ciri keruangan protein. Struktur tersier suatu protein
menggambarkan perlipatannya rantai polipeptida. Perlipatan terdapat lebih acak
daripada cirri struktur sekundernya, tetapi dapat menunjukkan pola yang
teratur. Ikatan disulfida yang terbentuk di antara molekul sisterna memberikan
pertautan kovalen yang nisbi kuat mendukung struktur tersier. Protein globular
sebagaimana ditunjukkan oleh mieglobin, merupakan contoh yang menarik bagi
struktur tersier. Dimana berperan menyimpan dan mengalirkan oksigen . Ini
sangat erat kaitannya dengan haemoglobin yang merupakan protein yang rumit.
Ada beberapa ciri molekul protein
yaitu :
1. Berat molekulnya besar, ribuan bahkan sampai jutaan, sehingga merupakan
makromolekul.
2. Umumnya
terdiri dari 20 asam amino.Asam amino berikatan secara kovalen satu dengan yang
lainnya dalam variasi urutan-urutan yang bermacam-macam, membentuk suatu rantai
polipeptida. Ikatan peptida merupakan ikatan gugus karboksil dari asam amino
yang satu dengan asam amino lainnya.
3. Terdapatnya
ikatan kimia lain yang menyebabkan terbentuknya lengkungan-lengkungan
rantai polipeptida menjadi struktur 3 dimensi protein. Sebagai contoh ikatan
hidrogen, ikatan hidrofob/ikatan apolar, ikatan ion atau ikatan elektrostatik
dan ikatan Van der Waals. 4. Strukturnya tidak stabil terhadap beberapa faktor seperti: pH, radiasi, temperatur, dan medium pelarut. 5. Umumnya reaktif dan sangat spesifik, disebabkan terdapatnya gugus samping yang reaktif dan susunan khas struktur molekulnya.
6. Beraksi positif terhadap pereaksi uji-uji yang spesifik seperti: Biuret, Ninhidrin dan Millon, Xantoprotein, Sakaguchi, Adamkiewitz.
Reaksi Spesifik Protein
Pembagian reaksi dalam lingkup
analisa kualitatif adalah sebagai berikut:
- Reaksi Hopkins Cole. Reaksi ini terjadi apabila larutan senyawa protein yang mengandung unsur triptofan bereaksi dengan pereaksi yang disebut dengan istilah Hopkins cole. Pereaksi ini mengandung beberapa senyawa antara lain asam glikosilat. Setelah dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole, asam sulfat dituangkan perlahan-lahan sehingga membentuk lapisan di bawah larutan protein. Beberapa saat kemudian akan terjadi cincin ungu pada batas antara kedua lapisan. Reaksi Hopkins-Cole memberi hasil positif khas untuk gugus indol dalam protein.
- Reaksi Millon. Jenis reaksi dari uji kualitatif protein ini terjadi apabila larutan protein ditambahkan dengan pereaksi berupa larutan merkuri serta merkuri nitrat yang ada di dalam asam nitrat. Sebagai hasilnya, akan muncul endapan berwarna putih yang akan berubah menjadi warna merah apabila terjadi pemanasan.
- Reaksi Natriumnitroprusida. Reaksi ini terjadi apabila pelarutnya adalah larutan amoniak. Protein yang mengandung senyawa sistein akan menunjukkan hasil yang positif.
- Reaksi Biuret. Uji biuret ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan adanya senyawa – senyawa yang mengandung gugus amida asam. Reaksi biuret merupakan uji yang dilakukan untuk mengetahui ikatan peptida. Reaksi ini positif (berwarna ungu) untuk zat yang mengandung 2 atau lebih ikatan peptida. Reaksi biuret merupakan reaksi warna yang umum untuk gugus peptida (-CO-NH-) dan protein. Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya warna ungu karena terbentuk senyawa kompleks antara Cu2+dan N dari molekul ikatan peptida. Banyaknya asam amino yang terikat pada ikatan peptida mempengaruhi warna reaksi ini. Senyawa dengan dipeptida memberikan warna biru, tripeptida ungu dan tetrapeptida serta peptida kompleks memberikan warna merah. Biuret dihasilkan dengan memanaskan urea kira-kira pada suhu 180 oC dalam larutan basa. Biuret memberikan warna violet dengan CuSO4. Reaksi ini disebut dengan reaksi biuret, kemungkinan terbentuknya Cu2+ dengan gugus CO dan –NH dari rantai peptida dalam suasana basa. Dipeptida dan asam-asam amino (kecuali histidina, serina dan treonina) tidak memberikan uji ini. Beberapa protein yang mempunyai gugus –CS-NH-, -CH-NH- dalam molekulnya juga memberikan tes warna positif dengan biuret.
- Reaksi Xantoprotein. Untuk mendapatkan reaksi ini, perlu penambahan larutan asam nitrat yang pekat ke dalam larutan protein. Pada saat dicampur, akan terlihat pembentukan endapan berwarna putih yang apabila dipanaskan akan berubah warna menjadi kekuningan. Reaksi ini terjadi pada protein yang di dalamnya terkandung senyawa antara lain fenilalanin, triptofan, dan juga tirosin.
- Reaksi sakaguchi. Uji Sakaguchi adalah uji kimia yang digunakan untuk mendeteksi asam amino arginin. Arginin memiliki kelompok-R propil (3 metil) dengan gugus guanidin di ujungnya. Gugus guanidin merupakan atom C yang mengikat N2 dengan ikatan tunggal dan mengikat N dengan ikatan ganda. Gugus guanidin akan bereaksi dalam uji sakaguchi. Dalam kondisi basa, alpha naphtol akan bereaksi dengan gugus guanidin dalam arginin yang telah teroksidasi sodium hipoklorit, menghasilkan senyawa berwarna merah. Apabila protein yang diuji dengan tes sakaguchi menunjukkan perubahan warna merah berarti dalam protein tersebut terdapat arginin.
PERMASALAHAN
1. Jelaskan
dua golongan utama protein berdasarkan bentuk dan sifat-sifat fisiknya!
2. Apa
yang menyebabkan tidak semua
pada
protein mempunyai struktur kuartener?
3. Mengapa
endapan putih pada reaksi xantoproteat dapat berubah menjadi warna kuning sewaktu
dipanaskan?
4. Struktur
protein dapat dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu struktur primer,
sekunder, tersier, dan kuarterner. Jelaskan !
Saya akan membantu menjawab permasalahan nomor 4
BalasHapus-Struktur primer adalah struktur linear dari rantai protein. Dalam struktur ini tidak terjadi antaraksi, baik dengan rantai protein yang lain maupun di antara asam amino dalam rantai protein itu sendiri.
-Struktur sekunder adalah struktur dua dimensi dari protein. Pada struktur ini terjadi lipatan (folding) beraturan, seperti α–heliks dan β–sheet, akibat adanya ikatan hidrogen di antara gugus-gugus polar dari asam amino dalam rantai protein.
-Struktur tersier merupakan struktur tiga dimensi sederhana dari rantai protein. Dalam struktur ini, selain terjadi folding membentuk struktur α–heliks dan β–sheet, juga terjadi antaraksi van der Waals dan antaraksi gugus nonpolar yang mendorong terjadi lipatan.
-struktur kuarterner. Dalam struktur ini, protein membentuk molekul kompleks, tidak terbatas hanya pada satu rantai protein, tetapi beberapa rantai protein bergabung membentuk seperti bola.
Jadi, pada struktur kuartener molekul protein di samping memiliki ikatan hidrogen, gaya van der Waals, dan antaraksi gugus nonpolar, juga terjadi antaraksi antar rantai protein baik melalui antaraksi polar, nonpolar, maupun van der Waals. Contoh dari struktur ini adalah molekul Hemoglobin, tersusun dari empat subunit rantai protein.
Saya mencoba menjawab permasalahan 1.
BalasHapusDua golongan utama protein berdasarkan bentuk dan sifat fisiknya yaitu:
1. Protein globular
Terdiri dari polipeptida yang bergabung satu sama lain (berlipat rapat) membentuk bulat padat. Protein ini larut dalam air, asam, basa, dan etanol. Misalnya enzim, albumin, globulin, protamin.
2. Protein serabut (fibrous protein)
Terdiri dari peptida berantai panjang dan berupa serat-serat yang tersusun memanjang, dan memberikan peran struktural atau pelindung. Protein ini tidak larut dalam air, asam, basa, maupun etanol. Misalnya fibroin pada sutera dan keratin.
Izin menjawab pertanyaan no 3
BalasHapusHal itu di karenakan untuk menguji apa kah terdapat inti benzena dalam protein atau tidak kalau endapan berubah menjadi warna kuning/jingga maka terdapat inti bezena didalam protein tersebut
Saya akan menjawab permasalahan yang ke 3
BalasHapusHal tersebut terjadi karena telah terjadi nitrasi atau reaksi substitusi atom H pada benzena yang terdapat pada molekul protein oleh gugus nitro. Inti benzena dapat ternitrasi oleh asam nitrat pekat menghasilkan turunan nitrobenzena. reaksi ini positif mengandung cincin fenil atau inti benzene.