MEKANISME REAKSI ELIMINASI PADA ALKIL HALIDA DAN ALKOHOL
REAKSI ALKIL HALIDA
Alkil halida paling banyak ditemui sebagai zat antara
dalam sintesis. Mereka dengan mudah diubah ke dalam berbagai jenis senyawa
lain, dan dapat diperoleh melalui banyak cara. Reaksi alkil halida yang banyak
itu dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu reaksi substitusi dan reaksi
eliminasi. Dalam reaksi substitusi, halogen (X) diganti dengan beberapa gugus
lain (Z).
REAKSI ALKOHOL
Alkohol adalah kelompok senyawa yang
mengandung satu atau lebih gugus fungsi hidroksil (-OH)pada suatu
senyawa alkana. Alkohol dapat dikenali dengan rumus umumnya R-OH. Alkohol
merupakan salah satu zat yang penting dalam kimia organik karena dapat
diubah dari dan ke banyak tipe senyawa lainnya. Reaksi dengan alkohol
akan menghasilkan 2 macam senyawa. Reaksinya dapat menghasilkan
senyawa yang mengandung ikatan R-O atau dapat jugamenghasilkan
senyawa mengandung ikatan O-H. Alkohol pada umumnya menjalani
reaksi eliminasi jika dipanaskan dengan katalis asam kuat, misal
H2SO4 atau asam fosfat (H3PO4)untuk menghasilkan alkena dan air. Asam
sulfat pekat akan menimbulkan banyak reaksi sampingan. Katalis ini
tidak hanya bersifat asam, tetapi juga merupakan agen pengoksidasi
kuat. Katalis ini mengoksidasi beberapa alkohol menjadi karbon dioksida
dan disaat yang sama tereduksi dengan sendirinya menjadi sulfur
oksida. Kedua gas ini (karbon dioksida dan sulfur oksida harus
dikeluarkan dari alkena.
REAKSI ELIMINASI
Reaksi eliminasi melibatkan pelepasan HX, dan hasilnya
adalah suatu alkena. Banyak sekali modifikasi terhadap reaksi ini, tergantung
pada pereaksi yang digunakan.
Reaksi
eliminasi adalah suatu jenis reaksi organik dimana dua substituen dilepaskan
dari sebuah molekul baik dalam satu atau dua langkah mekanisme. Reaksi satu
langkah disebut dengan reaksi E2, sedangkan reaksi dua langkah disebut dengan
reaksi E1. Simbol angka pada huruf E (yang berarti elimination) tidak
melambangkan jumlah langkah. E2 dan E1 menyatakan kinetika reaksi yaitu
berturut-turut bimolekuler dan unimolekuler.
Pada sebagian besar reaksi eliminasi organik, minimal satu hidrogen dilepaskan
membentuk ikatan rangka dua. Dengan kata lain akan terbentuk molekul tak jenuh.
Hal tersebut memungkinkan bahwa sebuah molekul melangsungkan reaksi eliminasi
reduktif, dimana valensi atom pada molekul menurun dua. Jenis reaksi eliminasi
yang penting melibatkan alkil halida, dengan gugus pergi (leavig group) yang
baik, bereaksi dengan basa lewis membentuk alkena. Contoh reaksi eliminasi :
Reaksi eliminasi adalah kebalikan
dari reaksi adisi. Ketika senyawa yang tereliminasi asimetris, maka
regioselektivitas ditemukan oleh aturan Zaitsev.
E2 merupakan
reaksi eliminasi bimolekuler. Reaksi E2 hanya terjadi dari satu langkah atau
hanya terjadi proses satu tahap dimana ikatan karbon-hidrogen dan
karbon-halogen terputus membentuk ikatan rangkap C=C. Reaksi E2 dilangsungkan
oleh alkil halida primer dan sekunder. Reaksi ini hampir sama dengan reaksi
SN2. Reaksi E2 secara khusus menggunakan basa kuat untuk menarik hidrogen asam
dengan kuat. Nukleofil bertindak sebagai basa dan mengambil proton (hidrogen)
dari atom karbon yang bersebelahan dengan karbon pembawa gugus pergi.
Pada waktu yang bersamaan, gugus pergi terlepas dan ikatan rangkap dua
terbentuk.
Konfigurasi
yang terbaik untuk reaksi E2 adalah konfigurasi dimana hidrogen yang akan
tereliminasi dalam posisi anti dengan gugus pergi. Alasannya
ialah bahwa pada posisi tersebut orbital ikatan C-H dan C-X tersusun sempurna
yang memudahkan pertumpang tindihan orbital dalam pembentukan ikatan p baru.
Reaksi E2
menggunakan basa kuat seperti –OH, -OR, dan juga membutuhkan
kalor, dengn memanaskan alkil halida dalam KOH atau CH3CH2ONa
dalam etanol.
MEKANISME E1
E1 merupakan
reaksi eliminasi unimolekuler. Mekanisme E1 mempunyai tahap awal yang sama
dengan mekanisme SN1. E1 terdiri dari dua langkah mekanisme yaitu ionisasi dan
deprotonasi. Reaksi E1
adalah reaksi eliminasi dimana suatu karbokation (suatu zat antara yang tak
stabil dan berenergi tinggi, yang dengan segera bereaksi lebih lanjut) dapat
memberikan sebuah proton kepada suatu basa dan menghasilkan sebuah alkena. Pada
reaksi SN1, salah satu cara karbokation mencapai produk yang stabil
ialah dengan bereaksi dengan sebuah nukleofil. Contohnya :
Karbokation adalah suatu zat antara yang tak stabil dan berenergi tinggi. Karbokation memberikan kepada basa sebuah proton dalam reaksi eliminasi, dalam hal ini reaksi E1 menjadi sebuah alkena.
·
Tahap 1 (lambat)
Tahap pertama dalam reaksi eliminasi adalah tahap lambat dan merupakan tahap
penentu laju dari reaksi keseluruhan. Suatu reaksi E1 yang khas menunjukkan
kinetika order-pertama, dengan laju reaksi hanya bergantung pada konsentrasi
alkil halide saja.
·
Tahap 2 (cepat)
Dalam tahap dua reaksi eliminasi,
basa itu merebut sebuah proton dari sebuah atom karbon yang terletak
berdampingan dengan karbon positif. Elektron ikatan sigma karbon hidrogen
bergeser ke arah muatan positif, karbon itu mengalami Rehibridisasi dari
keadaan sp3 ke
keadaan sp2, dan
terbentuklah alkena. Karena suatu reaksi E1 berlangsung lewat zat antara
karbokation, maka tidak mengherankan bahwa alkil halida tersier lebih cepat
daripada alkil halida lain.
Permasalahan
1. Mengapa pada reaksi E2
secara khusus menggunakan basa kuat untuk
menarik hidrogen
2. Mekanisme E1 terdiri dari dua langkah mekanisme yaitu ionisasi dan deprotonasi, jelaskan
3. Karbokation memberikan kepada basa
sebuah proton dalam reaksi eliminasi, dalam hal ini reaksi E1 menjadi sebuah alkena.
Kenapa hal tersebut dapat terjadi
Saya Yulia Saltiani (044) akan menjawab permasalahan no.2
BalasHapusReaksi E1 terdiri dari dua langkah mekanisme, yaitu:
1. Tahap 1 (lambat)
Pertama dalam reaksi eliminasi adalah tahap lambat dan merupakan tahap penentu laju dari reaksi keseluruhan. Suatu reaksi E1 yang khas menunjukkan kinetika order-pertama, dengan laju reaksi hanya bergantung pada konsentrasi alkil halida saja.
2. Tahap 2 (cepat)
Dalam tahap dua reaksi eliminasi, basa itu merebut sebuah proton dari sebuah atom karbon yang terletak berdampingan dengan karbon positif. Elektron ikatan sigma karbon hidrogen bergeser ke arah muatan positif, karbon itu mengalami rehibridisasi dari keadaan sp3 ke keadaan sp2, dan terbentuklah alkena. Karena suatu reaksi E1 berlangsung lewat zat antara karbokation, maka tidak mengherankan bahwa alkil halida tersier lebih cepat daripada alkil halida lain.
Saya Heni Yulianti (A1C116034) mencoba menjawab permasalahan pertama. Menurut sumber yang saya baca Reaksi E2 secara khusus menggunakan basa kuat untuk menarik hidrogen asam dengan kuat. Dikarenakan Nukleofil bertindak sebagai basa dan mengambil proton (hidrogen) dari atom karbon yang bersebelahan dengan karbon pembawa gugus pergi. Pada waktu yang bersamaan, gugus pergi terlepas dan ikatan rangkap dua terbentuk.
BalasHapusSaya Vicky Adrian (A1C116048) mencoba menyelesaikan permasalahan ketiga
BalasHapusKarbokation memberikan kepada basa sebuah proton dalam reaksi eliminasi, dalam hal ini reaksi E1 menjadi sebuah alkena. Hal ini bisa terjadi karena dalam tahap dua reaksi eliminasi, basa itu merebut sebuah proton dari sebuah atom karbon yang terletak berdampingan dengan karbon positif. Elektron ikatan sigma karbon hidrogen bergeser ke arah muatan positif, karbon itu mengalami rehibridisasi dari keadaan sp3 ke keadaan sp2, dan terbentuklah alkena. Karena suatu reaksi E1 berlangsung lewat zat antara karbokation, maka tidak mengherankan bahwa alkil halida tersier lebih cepat daripada alkil halida lain. Rehibridisasi adalah peristiwa kembalinya pembentukan orbital hibrida ( orbital gabungan ) yang dilakukan oleh suatu atom pusat.